
Berita Luar, MALINAU- Program Wajib Belajar Malinau Maju merupakan sebuah kebijakan populis yang digagas Wempi W Mawa dan Jakaria, Bupati dan Wakil Bupati Malinau saat ini.
Penerapannya cukup populer sejak awal diperkenalkan pada tahun 2022. Singkatnya, kebijakan ini berbentuk penyediaan perlengkapan sekolah secara gratis, seluruhnya diberikan secara cuma-cuma kepada peserta didik.
Mulai dari topi, dasi, sepatu, kaos kaki, seragam sekolah, seragam olahraga, seragam pramuka, tas, buku, alat tulis hingga perlengkapan lainnya seluruhnya disediakan oleh Pemkab melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Malinau.
Di balik program yang populer di kalangan ibu-ibu rumah tangga ini, terdapat cerita dan sejarah panjang yang menjadi latar belakang lahirnya kebijakan tersebut.
Bupati Malinau, Wempi W Mawa menceritakan banyak filosofi lahirnya program inovasi ini didasari oleh seorang tokoh penting dalam hidupnya, ibundanya, Harlina Daring.
Wempi mengakui, masa kecilnya sama seperti kebanyakan anak seusianya dulu. Baju sekolah, perlengkapan sekolah, biasanya dibeli orang tua sekali dalam satu jenjang pendidikan.
"Dulu, kalau baju sekolah, sepatu sekolah jarang sekali kita beli. Kalau masih bisa dipakai, itu dipakai. Karena saya juga dulu saat sekolah hidupnya juga pas-pasan," kata Wempi W Mawa, Rabu (30/7/2025).
Pada suatu ketika, Wempi kecil melihat ibunya menangis saat menjahit sepatu sekolahnya yang rusak dan sobek.
Seperti halnya seorang ibu, kekhawatiran Harlina, putranya enggan bersekolah karena sepatu sekolahnya penuh bekas jahitan tangan.
Pada kesempatan-kesempatan lain, seragam sekolah, tas sekolah, juga diperlakukan sama.
Secara diam-diam, Wempi sering melihat ibunya menangis saat memperbaiki seragam dan perlengkapan sekolahnya.
Menjahit sobekan pada baju dan celana sekolah, memperbaiki resleting tas dan celana, sudah menjadi kebiasaan perempuan tersebut setiap tahun ajaran baru.
"Baju sekolah, sepatu itu sobek di beberapa bagian dan diperbaiki. Suatu hari saya melihat beliau menangis, mungkin karena merasa sudah waktunya diganti, hanya uang digunakan untuk kebutuhan yang lebih penting di rumah," katanya.
Dari momen tersebutlah muncul cita-cita besarnya.
Negara, pemerintah daerah harus hadir menjawab kesulitan ini, pendidikan harus benar-benar sepenuhnya gratis.
Tidak hanya terbatas pada biaya pendidikan gratis, lebih dari itu, seluruhnya harus ditanggung oleh negara.
Baju sekolah, seragam sekolah, buku dan alat tulis harus disediakan untuk membuka sebesar-besarnya akses pendidikan.
"Dari sana, saya sudah memiliki niat. Dan syukur kepada Tuhan, berkat dukungan masyarakat saya terpilih sebagai Bupati. Dan sekarang saya masih memiliki kemampuan, niat tersebut harus saya wujudkan," katanya.
Wempi menambahkan, "Inilah yang mendasari lahirnya Wajib Belajar Malinau Maju, yang seluruh perlengkapan sekolah kita biayai, seluruhnya. Istilahnya, hanya pakaian dalam saja yang tidak dibelikan. Seragam hingga alat tulis lengkap semuanya saat ini Pemkab Malinau sediakan," katanya.
Hingga kini, program pengadaan ini telah menjangkau puluhan ribu peserta didik jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), SD, SMP/sederajat yang menjadi kewenangan Pemkab Malinau, tak terkecuali pada jenjang SMA/sederajat.
Menurutnya, ini adalah upaya agar seluruh putra-putri Malinau memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati pendidikan.
Kelahiran program ini juga tidak lepas dari peran istrinya, Maylenty, yang juga memiliki kekhawatiran yang sama.
Kisah ini ia ceritakan di hadapan ratusan siswa-siswi di Malinau dalam hari puncak peringatan Hari Anak Nasional melalui Diskusi Panel Bedah Buku Wempi W Mawa, Pemikiran dan Perjuangan.
Dia berharap, tidak ada lagi anak-anak Malinau yang putus sekolah karena masalah biaya.
Saat ini, program yang sama juga diterapkan hingga pada jenjang pendidikan tinggi.
(*)
Penulis: Mohammad Supri
0 Komentar