Berita Luar,JAKARTA — Ekosistem teknologi di pitafrekuensi1,4 GHz dianggap belum matang dan dikhawatirkan akan menimbulkan sejumlah tantangan bagi penetrasiinternetberbasis akses nirkabel tetap (FWA) di Indonesia. Pemerintah mengikat para pemenang dengan komitmen pembangunan yang kuat.
Diketahui, ekosistem yang belum sempurna membuat perangkat penerima sinyal internet dari pita 1,4 GHz dijual dengan harga mahal hingga Rp6,5 juta. Padahal, modem pita frekuensi yang sudah ada — seperti 2300 MHz, 2100 MHz hingga 800 MHz — hanya dikenakan biaya di bawah Rp200.000.
Mengenai situasi ekosistem 1,4 GHz yang belum matang tersebut, Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Sigit Puspito Wigati Jarot mengatakan kondisi ini dapat berdampak pada keterlambatan ketersediaan perangkat serta mahalnya harga layanan jika tidak diantisipasi oleh kebijakan atau regulasi yang tepat.
Oleh karena itu, selanjutnya, pilihan kebijakan 1,4 GHz untuk mendorong broadband FWA ini, agar dapat mencapai tujuan kebijakannya, perlu diawasi dengan regulasi yang tepat, termasuk pada komitmen para pemenang lelang.
"Tujuannya adalah untuk mencegah kegagalan pasar, serta mengantisipasi keterlambatan dalam pengadopsian layanan," kata Sigit kepada Bisnis, Rabu (30/7/2025).
Keterbatasan ekosistem di pita ini berpotensi membuat perangkat pendukung layanan FWA lebih sedikit dan cenderung mahal di pasar. Hal ini diakui akan menghambat penetrasi internet di pita 1,4 GHz - berbeda dengan ekosistem pita mid-band seperti 2,3 GHz atau 3,5 GHz yang telah mapan dan didukung oleh banyak vendor perangkat.
Sigit memperkirakan, secara umum diperlukan waktu sekitar 1 hingga 1,5 tahun bagi vendor untuk bisa mulai menyediakan perangkat yang mendukung pita 1,4 GHz secara masif di pasar domestik. Namun, dia menekankan, risiko keterlambatan tersebut tetap dapat diminimalisir dengan regulasi yang mengatur komitmen dari pemenang lelang spektrum.

"Misalnya peraturan yang secara jelas mengatur kapan layanan FWA terkait harus tersedia, di wilayah mana, kecepatan minimal berapa, harga layanan berapa, dan seterusnya. Hal-hal tersebut dapat dikomitmenkan kepada pemenang lelang," jelasnya.
Sebelumnya, Kepala Asia Pasifik GSMA Julian Gorman mengatakan tantangan utama dalam pemanfaatan frekuensi 1,4 GHz berkaitan dengan kesiapan ekosistem pendukung yang masih minim.
"Masalah utama dari teknologi 1,4 GHz adalah ukuran ekosistemnya," kata Julian dalam konferensi virtual, Senin (28/7/2025).
Dia menjelaskan bahwa setiap pita frekuensi yang dialokasikan memerlukan ekosistem komprehensif agar dapat dimanfaatkan secara efektif—dari pembuat chip, antena, hingga produsen perangkat yang dapat mendukung spektrum tersebut.
Di berbagai belahan dunia, pita frekuensi yang paling populer dan telah diadopsi secara luas lebih dahulu adalah 3,5 GHz, diikuti dengan 2,6 GHz. Pita-pita ini mendapat sambutan luas karena didukung oleh rantai pasok global yang matang dan biaya produksi perangkat yang efisien karena skala adopsi yang besar.
Sebaliknya, pita 1,4 GHz hanya digunakan secara sporadis di beberapa wilayah dunia, sehingga keberadaan perangkat, chip, dan dukungan teknis lainnya masih relatif terbatas.
"Jika Indonesia memilih untuk mengembangkan layanan di pita ini, tentu kontribusi terhadap pembentukan ekosistem global sangat besar. Namun, saat ini, kurangnya skala adalah tantangan terbesar," kata Julian.
0 Komentar