Ikuti Prancis, Inggris Akan Mengakui Negara Palestina Sebelum September

Jakarta, IDN Times -Pemerintah Inggris menyatakan akan mengakui negara Palestina paling lambat September 2025. Pernyataan ini diumumkan langsung oleh Perdana Menteri (PM) Keir Starmer dalam rapat kabinet darurat, Selasa (29/7/2025).

Langkah ini bisa terjadi sebelum Sidang Umum PBB di New York, dan menjadi pengakuan paling eksplisit yang pernah diberikan Inggris terkait Palestina, dengan tenggat waktu dan syarat-syarat yang jelas.

"Starmer menegaskan tidak ada kesetaraan antara Israel dan Hamas. Tuntutan kami terhadap Hamas tetap: lepaskan tawanan, setujui gencatan senjata, mundur dari pemerintahan Gaza, dan larang senjata mereka," tulis pernyataan resmi pemerintah, dikutip dariAl Jazeera, Rabu (30/7/2025).

1. Langkah Berani Inggris, Kritik Keras dari Israel

Israel bereaksi keras terhadap pengumuman ini. Kementerian Luar Negeri Israel menyebut rencana Inggris sebagai 'hadiah bagi Hamas' yang justru akan merusak peluang untuk mencapai gencatan senjata baru.

Dalam pernyataan di platform X, Israel memperingatkan bahwa tindakan ini dapat menghancurkan setiap harapan perdamaian. Israel sendiri melanggar gencatan senjata terakhir yang dinegosiasikan pada bulan Maret lalu.

Sebelum mengumumkan keputusan kepada publik, Starmer dilaporkan telah menyampaikan rencana tersebut secara pribadi kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui panggilan telepon. Namun, isi percakapan mereka tidak diungkapkan kepada publik.

Di sisi lain, Duta Besar Palestina untuk Inggris, Husam Zomlot menyambut positif rencana pengakuan tersebut. Ia menyebutnya sebagai tindakan bersejarah dan bermakna secara moral.

Zomlot menyebut pengakuan itu sebagai langkah penting dalam mengoreksi ketidakadilan akibat Deklarasi Balfour tahun 1917, yang membuka jalan bagi pendirian negara Israel.

"Pernyataan ini harus menjadi bagian dari proses yang lebih luas yang berakar pada keadilan dan hukum internasional, mulai dari penghentian genosida di Gaza hingga rekonstruksi dan pertanggungjawaban atas kejahatan perang," tulis Zomlot.

2. Tekanan dari Partai Buruh internal

Perubahan sikap ini muncul seiring meningkatnya tekanan dari dalam Partai Buruh sendiri. Lebih dari separuh anggota parlemen dari fraksi Buruh mendesak Starmer untuk segera mengakui negara Palestina sebagai bentuk tekanan terhadap Israel agar kembali ke meja perundingan.

Anggota parlemen Sarah Champion, yang menginisiasi surat terbuka kepada Perdana Menteri, mengatakan bahwa meskipun tidak pernah ada "waktu yang sempurna" untuk pengakuan, saat ini mungkin menjadi kesempatan terakhir untuk menyelamatkan solusi dua negara.

"Kini atau tidak sama sekali, jika kita percaya bahwa rakyat Palestina berhak mendapatkan pengakuan," katanya.

Starmer juga membela waktu dan syarat pengumuman ini. Ia mengatakan, situasi yang "tidak terdengar" di Gaza dan memudarnya prospek solusi dua negara menjadi dasar keputusan tersebut.

"Saya khawatir ide solusi dua negara kini terasa lebih jauh dari sebelumnya. Pengakuan Palestina ini ditujukan untuk menghidupkan kembali harapan itu," katanya.

3. Bagian dari Rencana Perdamaian Eropa

Pengakuan Palestina ini merupakan bagian dari rencana perdamaian delapan poin yang sedang disusun Inggris bersama sejumlah mitra Eropa. Minggu lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyatakan negaranya akan secara resmi mengakui negara Palestina.

Sebelumnya, negara-negara Uni Eropa seperti Norwegia, Spanyol, dan Irlandia telah lebih dulu melakukan pengakuan serupa.

Namun, analis politik senior Al Jazeera, Marwan Bishara, menyatakan keraguan terhadap retorika para pemimpin Barat. Ia mengatakan mereka tetap mendukung Israel dalam perang di Gaza, bahkan ketika berbicara tentang keadilan.

"Mereka tidak dalam posisi untuk berbicara tentang perdamaian jika masih menjadi bagian dari genosida," kritik Bishara.

Ia juga menyoroti ketidakjelasan mengenai bentuk negara Palestina yang dimaksud. Apakah hanya sebagian kecil Tepi Barat, atau seluruh wilayah yang diduduki sejak 1967 termasuk Yerusalem Timur dan Gaza.

Inggris Mengancam Akan Mengakui Palestina Jika Israel Tidak Menghentikan Perang Indonesia Memuji Sikap Prancis yang Mengakui Negara Palestina Berita Baik! Prancis Akan Mengakui Negara Palestina Secara Resmi Bulan September Nanti

Posting Komentar

0 Komentar