
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan produksi minyak Indonesia hari ini sudah melebihi 608 ribu barel per hari (bph). Angka ini melampaui target produksi minyak yang ditetapkan dalam APBN 2025 sebesar 605 ribu bph.
"Hari ini saya baru keluar dari kantor, saya lihat di layar monitor online, lifting minyak sudah mencapai 608 ribu barel per hari. Tapi ini belum akumulatif," kata Bahlil dalam acara Energi dan Mineral Festival 2025, Rabu (30/7).
Dia menjelaskan sejak 2008 hingga 2024, Indonesia tidak pernah berhasil mencapai target lifting sesuai ketetapan APBN. Namun lambat laun angka lifting minyak di Indonesia meningkat, pada 2024 dia menyebut realisasi lifting minyak mencapai 579 ribu barel per hari.
Dia berharap tahun ini Indonesia dapat mencapai target APBN. "Ya, kita doakan, saya mohon dukungan. Insya Allah atas berkat dan arahan serta perintah Bapak Presiden Prabowo, peningkatan kita harus mencapai sesuai target APBN," katanya.
- Bahlil menyebut produksi minyak nasional mencapai 602 ribu barel per hari pada Juni 2025
- Pemerintah Naikkan Target Pengangkatan Minyak 2026 hingga 610 Ribu Barel Per Hari
- Pengangkatan Migas Juni 2025 Mencapai Target APBN Akibat Peningkatan Penyelidikan Sumur Sebesar 20%
Bahlil mengatakan bahwa untuk mencapai target tersebut, Indonesia menghadapi beberapa tantangan. Pertama, terkait kondisi sumur-sumur minyak Indonesia yang sudah tua, karena sudah ada sejak Indonesia belum merdeka.
"Kedua, kita masih memiliki banyak sumur minyak yang tidak digunakan. Ketiga, investasi di bidang migas ini sangat besar dengan risiko yang besar," katanya.
Namun demikian, Bahlil mengatakan dirinya sudah bertemu dengan pejabat perusahaan hulu migas.
"Rasanya ada secercah harapan menuju perbaikan lifting minyak agar mencapai target. Arahan Bapak Presiden untuk tahun 2029-2030, lifting minyak harus mencapai sekitar 900 ribu barel per hari, ini menjadi dorongan bagi kami semua," katanya.
Produksi dan Angkut Migas Semester I 2025
SKK Migas mengatakan hingga Juni 2025, produksi minyak mencapai 579,3 ribu barel per hari (bph) atau 95,8% dari target APBN sebesar 605 ribu bph. Sementara produksi gas tercatat 6.820 mmscfd, melebihi target APBN yang ditetapkan 5.628 mmscfd atau 121,1%.
Untuk lifting minyak dan gas bumi, realisasi semester I mencapai 578 ribu barel per hari (95,5%) untuk minyak dan 5.483 juta kaki kubik per hari (mmscfd) atau 97,4% dari target. Dia memastikan angka lifting dan produksi minyak akan seimbang pada akhir tahun. Pasalnya, seluruh minyak yang diproduksi pasti akan dilifting sebelum tutup tahun.
"Untuk lifting, ini sama dengan produksi karena di akhir Desember itu semua minyak yang diproduksi akan dilifting," kata Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (21/7).
Namun, ia menjelaskan bahwa perbedaan angka antara produksi dan lifting bisa terjadi jika dilihat secara bulanan atau harian. Ini karena lifting tidak dilakukan setiap hari, melainkan dalam jumlah besar pada waktu tertentu.
"Terkadang lifting bisa mencapai 1 juta barel per hari, karena minyak yang diproduksi itu disimpan terlebih dahulu di tangki. Demikian pula dengan gas, bisa disimpan terlebih dahulu dan dilakukan lifting satu atau dua kali dalam setahun," katanya.
Sementara itu, realisasi investasi sektor hulu migas pada semester I 2025 mencapai 7,19 miliar dolar AS atau 43,6% dari target tahunan sebesar 16,5 miliar dolar AS. Djoko optimis target investasi sepanjang tahun ini bisa tercapai, bahkan berpeluang melampaui proyeksi.
"Outlook-nya semoga bisa tercapai sesuai target 2025 atau bahkan lebih, bisa mencapai 16,9 miliar dolar AS," kata Djoko.
0 Komentar