Podcast Tribun Bersama Direktur Utama BSG Revino Pepah: Strategi Menghadapi Tantangan Digitalisasi

Podcast Tribun Bersama Direktur Utama BSG Revino Pepah: Strategi Menghadapi Tantangan Digitalisasi

Berita OutnerSebagai bank daerah, Bank Sulut Gorontalo (BSG) memiliki tantangan besar.

Di antaranya mendorong ekspansi bisnis, digitalisasi serta menjadi mitra pemerintah untuk mendorong kesejahteraan masyarakat di dua provinsi, Sulut dan Gorontalo.

Tribun Manado mendapatkan kesempatan istimewa mewawancarai Direktur Utama BSG, Revino Pepah dalam Podcast Tribun bertajuk Strategis BSG Menghadapi Tantangan Baru, Rabu (30/7/2025).

Berikut kutipan wawancara bersama Revino Pepah yang dipandu Host, Pemred Tribun Manado, Jumadi Mappanganro.

Selamat datang Tuan di Tribun Podcast. Bagaimana kabar Tuan, apa saja kesibukan terakhir ini? Bagaimana kinerja BSG hingga saat ini?

Baik, syukur puji Tuhan kita sangat baik. Ya, kita baru saja menyelesaikan semester pertama.

Sehingga ini kita sedang persiapkan bagaimana target-target kita di semester dua untuk kita realisasikan.

Kita sudah memasuki semester dua dan tetap sibuk dengan kegiatan perbankan.

Bagaimana BSG mengumpulkan dana dengan menyalurkannya?

Terima kasih, kinerja kita secara tahun ke tahun, semester I 2025 dibandingkan semester I tahun 2024 sangat baik.

Kami bersyukur karena kami juga tahu bahwa perekonomian Indonesia masih dalam tahap pemulihan.

Di mana pemerintah saat ini memiliki berbagai kebijakan yang baik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kami mengikuti dan menyesuaikan serta bersyukur, BSG menutup semester pertama tahun 2025, kita mencatatkan dana yang kita kumpulkan sekitar Rp 17,1 triliun (rupiah).

Berikutnya, kredit kita bisa menyalurkan sekitar lebih dari Rp 16,1 triliun.

Dan tentu yang paling penting mengenai profitabilitas atau laba dari bank ini, kita dapat mencatatkan laba kotor sebesar 229 miliar rupiah.

Angka Rp 229 miliar ini tumbuh sebesar 48 persen secara tahunan.

Capaian ini kami anggap sebagai kinerja yang cukup baik di tengah situasi perbankan yang sangat kompetitif.

Pencapaian di tengah serangan kompetitor, kita masih bisa tumbuh sebesar 48 persen.

Pertumbuhan ini yang harus kita jaga hingga akhir tahun 2025 nanti.

Pertumbuhan bank harus kita jaga pada rel yang sebenarnya.

Bisa dijelaskan apa rahasia atau strategi yang dilakukan oleh Pak Revino dan tim di BSG sehingga di tengah persaingan perbankan lain, BSG bisa berkembang hingga lebih dari 40 persen.

Jadi memang sejak awal tahun ini kami sudah menjalin komunikasi yang positif dengan pemegang saham.

Terutama Bapak Gubernur Sulut sebagai Pemegang Saham Pengendali.

Bahkan sebelum Pak Gubernur dilantik, kita sudah mempresentasikan strategi kita maupun kinerja yang akan kita capai pada tahun 2025 itu sudah kita presentasikan kepada beliau sebagai Pemegang Saham Pengendali.

Bagaimana Bank Sulutgo bisa berada pada jalur yang benar?

Memang harus kita akui sejak triwulan pertama sejak beliau dilantik, kita sudah diawasi oleh Pemegang Saham Pengendali.

Selanjutnya, tentu saja kita memiliki satu regulator yang merupakan pengawas dalam kegiatan usaha kita, yaitu Otoritas Jasa Keuangan.

Di OJK itu kita harus mengisi yang disebut Rencana Bisnis Bank atau RBB.

RBB ini adalah hal yang harus kita lakukan dalam aspek bisnis perbankan selama satu tahun.

Nah di dalam RBB itu terdapat hal-hal yang harus kita lakukan selama tahun 2025 ini.

Nah, ada 3 strategi besar yang akan kita lakukan di tahun 2025 ini yang sudah kita rintis sejak awal dan ini sudah kita laporkan dalam RUPS kemarin kepada pemegang saham.

Termasuk di dalamnya Pemegang Saham Pengendali, Bapak Gubernur Sulut.

Strategi pertama kita adalah efisiensi. Jadi kita harus menurunkan biaya overhead kita.

Efisiensi yang baik di dalam bank berarti ada biaya-biaya overhead yang tidak produktif yang harus kita kurangi.

Karena kita tahu bahwa pemerintah pusat maupun pemerintah daerah melakukan efisiensi.

Sehingga kita harus melakukan efisiensi, terutama kita fokus pada biaya overhead non pegawai.

Strategi kedua, kita harus mengubah struktur dana menjadi structure pendanaan.

Yang tadinya kita berorientasi atau ada beberapa komponen dana mahal harus kita lakukan penggantian sehingga ada dana-dana yang relatif murah dan dana-dana yang dapat kita gunakan lebih kompetitif.

Kita berupaya agar struktur dana kita mungkin menjadi dana yang lebih mahal dan dana-dana institusi ini akan kita fokuskan lebih banyak ke dana ritel yang relatif lebih murah.

Nah, kemudian strategi yang ketiga, mereka melakukan ekspansi kredit.

Setelah berjalan, kami mengakui bahwa faktor efisiensi ini memainkan peran penting bagi kami, sehingga ada beberapa biaya yang tidak produktif yang harus kami kurangi.

Dan sehingga terlihat bahwa kita bisa berkembang karena kita dapat melakukan efisiensi terhadap biaya yang tidak produktif.

Selain itu, pengembangan kredit tetap kita jaga sehingga inilah yang membuat kita mampu menutup semester satu ini dengan hasil yang menurut pendapat kami merupakan hasil yang cukup baik.

Dan ini kita dapat pertanggungjawabkan.

Kita berharap dengan hasil yang baik ini dapat memberikan kontribusi kepada pemegang saham.

Berikutnya, apa yang dilakukan BSG terkait implementasi digitalisasi perbankan?

Digitalisasi ini memang sudah sekitar sembilan tahun kita lakukan.

Sejak produk-produk perbankan sudah beralih ke produk digital, maka kita harus ikut serta dalam proses digitalisasi.

Digitalisasi ini berfokus pada segmen kita.

Kita tahu bahwa BSG ini adalah bank yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan bank lainnya.

Ada pesaing kita, Bank Himbara, bank swasta nasional yang kita ketahui cukup besar.

Sementara kita adalah bank kategori bank pembangunan daerah yang berbisnis secara lokal dan regional.

Nah tentu kita melakukan digitalisasi. Dengan fokus, artinya kita tidak bisa melakukan digitalisasi secara sembarangan karena digitalisasi ini cukup mahal. Biayanya cukup tinggi.

Jika kita melakukan investasi di bidang teknologi informasi, investasinya besar.

Nah, sehingga kita harus memilih, kita harus menentukan prioritas pada bidang mana kita akan melakukan digitalisasi.

Nah, kita sudah memilih kemarin ada beberapa produk yang kita lakukan digitalisasi awal, yang kita lihat adalah produk yang langsung dengan nasabah kita.

Tentu saja perbankan mobile kami juga ikut di sana.

Ada SMS banking kita memiliki digitalisasi paralel. Sistem yang kita sebut dengan nama BSG Direct, karena kita juga melayani transaksi pemerintah daerah yang merupakan pemegang saham kita.

Bagaimana Kasda Online yang dahulunya dikelola secara manual, maka kita melakukan digitalisasi di sana yang kita sebut dengan SP2D online atau Kasda Online.

Jadi, jika kita melakukan digitalisasi ini terfokus.

Karena jika kita melakukan sesuatu secara asal-asalan tanpa memiliki tujuan tertentu, biayanya akan sangat mahal dan ini sangat berbahaya bagi kita di masa depan.

Sehingga kita memilih bidang-bidang mana yang menjadi target kita tentunya.

Terhadap bisnis inti kita.

Di mana inti bisnis kita, di situlah kita lakukan digitalisasi.

Kita sudah sekitar 9-10 tahun melakukan program digitalisasi ini yang kita sebut dengan nama Transformasi BSG.

Jadi kita melakukan 10 tahun yang lalu. Itu namanya transformasi BSG karena kebetulan saya sudah menjadi anggota direksi pada waktu itu hingga saat ini.

Kita melakukan apa yang disebut transformasi BSG, salah satunya di bidang digitalisasi, tetapi tentu saja fokus terhadap produk-produk inti yang langsung memberikan manfaat bagi kita.

Apa tantangan terbesar yang dihadapi BSG? Bagaimana hubungannya juga dalam upaya mencapai nasabah di daerah yang masih memiliki keterbatasan dalam hal infrastruktur digitalnya.

Jadi memang benar apa yang dikatakan tadi. Jadi kita memiliki tantangan-tantangan besar. Jika saya bagi menjadi dua saja, yaitu secara internal dan eksternal.

Nah internal kita adalah masalah di dalam, yaitu menyangkut pegawai.

Teknologi informasi standar dan prosedur operasional adalah tantangan kita di dalam.

Jadi artinya dengan sistem yang manual kita beralih ke digitalisasi.

Ini merupakan tantangan tersendiri bagi kita.

Pegawai harus kita latih. Pegawai harus kita arahkan, semua menuju ke digitalisasi dan ini memerlukan pelatihan.

Bagaimana menciptakan budaya digital kepada para karyawan dan ini memang sebuah tantangan tersendiri secara internal.

Kita juga membangun sistem di dalamnya yang tidak harus terjadi sekaligus.

Jadi melalui proses yang cukup panjang.

Bagaimana kita membentuk budaya digital tetapi tidak meninggalkan hal-hal yang bersifat prudensial.

Jadi kita tahu, meskipun kita melakukan digitalisasi, aspek kehati-hatian itu menjadi perhatian kita.

Sementara di sisi eksternal itu adalah nasabah kita, stakeholder yang lain ya ada nasabah, ada pemerintah sebagai pemegang saham pemerintah daerah, itu kita contoh yang saya katakan tadi tentang Kasda Online jadi.

Transaksi keuangan pemerintah itu kan melalui bagaimana yang tadi masih dilakukan secara manual?

Kemudian ternyata departemen dalam negeri juga ingin melakukan digitalisasi melalui sistem informasi pemerintahan daerah yang dikenal sebagai SIPD.

Nah, bagaimana aplikasi kita bisa?

Nah ini kita punya tantangan tersendiri terhadap faktor eksternal itu.

Kemudian bagaimana produk-produk kita yang dahulu secara manual, misalnya mobile banking kita harus diluncurkan dan kita dorong ke pasar, nah pasar ini sangat kompetitif.

Mereka bisa membandingkan. Produk dari bank lain dengan produk kita, dan ya, kita tahu bahwa bank lain memiliki sumber dana yang lebih besar karena banknya lebih besar.

Dia memiliki sumber daya yang lebih besar, sementara kita dengan hal yang terbatas.

Namun kita harus mengirimkan produk tersebut sehingga dia mau menggunakan produk itu dan ini merupakan tantangan eksternal untuk itu.

Jadi, benarlah tantangan digitalisasi ini, baik kita menghadapinya secara internal maupun eksternal.

Jadi seperti itu ya Pak Direktur. Lalu, bagaimana proyeksi pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga di BSG hingga semester pertama 2025?

Baik terima kasih. Memang kita lihat bahwa kami harus mengakui bahwa pertumbuhan kredit ini agak cukup ketat.

Jadi persaingan dalam penyaluran kredit di Sulawesi Utara Gorontalo ini cukup ketat.

Memang situasi ekonomi ini baru dalam pemilihan, sehingga kami melihat bahwa kita tidak bisa gegabah dalam menyalurkan kredit secara sembarangan.

Jadi kita tetap menyalurkan secara perlu dan sehingga pertumbuhannya kami harus mengakui tidak terlalu signifikan.

Jadi pertumbuhannya relatif melambat, tetapi kita menjaga tingkat kesehatan daripada kredit.

Jadi apa artinya kita berkembang pesat dengan kualitas yang buruk? Artinya kita juga menjaga kualitas kredit di sini.

Jika pendanaan cukup baik, kami melihat pertumbuhan dana pihak ketiga secara year to date sekitar 16 hingga 17 persen dan itu masih bagus bagi kita.

Namun memang di sisi kredit kita harus waspada terhadap situasi.

Saat ini kita harus berhati-hati. Kita harus menjaga kredit kita harus tetap sehat. Tentu saja kita juga tidak akan tidur.

Bank itu hanya berbisnis menghimpun dan menyalurkan dana. Jika kita menghimpun tetapi tidak menyalurkan maka ini menjadi beban bagi kita.

Jadi mau tidak mau dana yang kita kumpulkan harus kita salurkan sehingga itu menjadi sumber keuntungan bagi bank karena kegiatan pendanaan ini merupakan biaya bagi kita.

Para nasabah harus kita beri bunga. Jika pakai deposito di bank, maka kita harus membayar bunganya.

Nah dari mana pendapatan bank dari penyaluran kredit tadi, penyaluran dana tadi di situ kita memperoleh pendapatan.

Nah, selisih antara pendapatan bunga dan biaya bunga menjadi keuntungan bagi kita.

Jadi bank sebenarnya hidup dari selisih dana tersebut antara penyaluran kredit dan penghimpunan dana.

Nah, coba bayangkan bagaimana kita harus membayar bunga kepada deposan, kemudian kredit yang kita salurkan tidak menghasilkan pendapatan, itu disebut dengan negative trap.

Jadi ini yang perlu kita jaga, jangan sampai kredit yang kita salurkan itu tidak menghasilkan pendapatan bagi kita.

Di sisi lain, nasabah yang menabung dan menempatkan dana di bank kita terus membayar bunganya. Nah, itu yang berbahaya bagi bisnis perbankan.

Jadi, bisnis perbankan ini kita harus menjaga kreditnya sehat yang dibiayai dengan sumber dana yang terukur.

Artinya, jika kita mengumpulkan dana 10, kita yakin bahwa 10 itu bisa disalurkan di sisi kredit.

Jika di bisnis perbankan, itu disebut manajemen aset dan kewajiban.

Jadi kita harus mengatur baik di sisi aset maupun di sisi kewajibannya agar tidak terjadi perbedaan yang terlalu besar.

Pak Direktur, terkait dalam penyaluran kredit, sektor-sektor mana yang menjadi fokus BSG dalam penyaluran kredit dan apa alasannya?

Jadi memang kita harus mengakui bahwa saat ini kita masih lebih fokus pada konsumen karena memang konsumen ini sudah kita layani selama puluhan tahun.

Sejak BSG ini berdiri. Karena ini adalah pasar terbatas kita di sini.

Namun di sektor produktif, kredit produktif juga merupakan bagian dari perhatian kami.

Karena kita juga menyalurkan KUR.

Tahun ini kami ditargetkan oleh pemerintah harus menyalurkan sebesar Rp 160 miliar KUR.

Total kredit Usaha Rakyat yang telah kita salurkan sudah kurang lebih Rp 600 miliar lebih.

Nah tahun ini kita akan menyalurkan 160 miliar rupiah di luar kredit usaha rakyat.

Ada beberapa kredit produktif dalam bentuk sindikasi yang telah kami salurkan.

Kemudian ada beberapa kredit produktif lainnya yang merupakan kredit kecil yang merupakan bagian dari kita.

Memang benar bahwa sektor konsumer masih menjadi pasar tertutup kita, tetapi di sektor produktif kita juga tidak meninggalkannya karena kita salah satu bank pemerintah yang ditunjuk oleh pemerintah untuk menyalurkan kredit usaha rakyat.

Nah ini memang kredit yang benar-benar untuk usaha kecil.

Dan nilainya di bawah 100 juta itu tanpa jaminan, tetapi tentu saja kita harus berhati-hati karena di sini juga ada risikonya.

Bagaimanapun, pemberian kredit tanpa jaminan menimbulkan tingkat risiko yang tinggi.

Namun ini adalah misi yang kita emban yang diberikan target oleh pemerintah agar kita bisa terlibat di sana dari Kementerian Koordinator Perekonomian.

Kita menyalurkan dengan Kementerian UMKM. Jadi itu sudah kita lakukan bagaimana?

Misalnya, ada masyarakat pengusaha kecil menengah.

Bagaimana dia (UMKM) bisa mendapatkan kredit di BSG dan apa keunggulan memperoleh kredit di BSG?

Terima kasih jadi begini. Kita memang tidak melayani sektor-sektor yang harus kita akui kita ini bank ini yang saya katakan tadi bank lokal.

Jadi kita adalah bank pembangunan daerah yang spesifik hanya berlokasi di daerah kita, salah satu dari 27 BPD, sehingga memang kita tidak berspesialisasi dalam menyalurkan kredit yang besar.

Namun itu yang saya katakan tadi, kredit kecil ini juga kan, walaupun di kredit kecil harus kita jaga kesehatan jadi masyarakat.

Jika ingin berusaha, bisa datang ke bank ke kantor BSG terdekat. Kita bisa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk Kredit Usaha Rakyat.

Kredit Usaha Rakyat ini adalah kredit dengan bunga murah hanya 6 persen dan di bawah 100 juta rupiah tanpa agunan.

Namun tentu saja ada persyaratan bahwa calon debitur harus memiliki usaha.

Jadi tidak boleh jika tidak ada usaha, kemudian kita membiayai.

Nah ada kan masyarakat yang melihat oh, saya punya sertifikat tanah bisa enggak? Kita bukan melihat tanahnya itu, tapi melihat usahanya.

Mengapa? Karena dari usaha itulah muncul sumber pengembalian.

Nah kalau dia memiliki usaha yang jelas dan sudah mungkin berjalan selama beberapa waktu tertentu, kita bisa mendanai itu, tinggal datang ke bank.

Tentu saja tidak diperlukan persyaratan yang rumit karena untuk kredit usaha rakyat, jika dia memiliki usaha cukup membawa surat keterangan saja dari pemerintah setempat dari kelurahan atau dari desa.

Tentu di sini ada faktor tertentu, ya kita harus melakukan pemeriksaan. Apakah dia memiliki fasilitas di bank lain?

Itu akan menjadi dasar penilaian kami. Kemudian, sekitar usaha itu sudah dia lakukan selama jangka waktu tertentu.

Tapi intinya dia harus memiliki usaha yang akan menjadi sumber pengembalian terhadap kredit tersebut.

Bagaimana BSG menjaga kualitas asetnya di tengah ketidakpastian ekonomi global dan regional?

Jika berbicara tentang aset bank, itu beragam.

Intinya, aset itu hanya ada dua hal saja. Jika kita melihat secara teoritis, disebut sebagai aset produktif atau kita sebut dengan aktiva apa produktif dan aktiva tetap.

Nah yang terbesar di bank tersebut adalah aset produktif. Aset produktif ini terdiri dari penempatan dana kami di tempat lain, penyertaan kami, dan kredit.

Aktiva produktif ini memang harus kita jaga.

Karena aset produktif merupakan sumber pendapatan bagi bank termasuk risiko bagi bank. Artinya jika aset produktif ini baik, maka aset produktif ini sehat.

Kami mendapatkan pendapatan yang baik.

Namun jika aset produktif ini tidak baik, maka risikonya akan meningkat bagi kita, yang disebut risiko kredit.

Nah cara menjaga tentunya dari awal, contoh dalam pemberian kredit dari awal kita harus menerapkan yang disebut manajemen prudensial.

Kehati-hatian itu penting untuk dijaga.

Tentu saja kita melihat bahwa dalam jumlah tertentu, kapasitas kredit ini harus didukung dengan agunan.

Namun yang paling penting, kita juga harus tahu kepada siapa kita memberikan.

Kedua, bahwa dia memiliki usaha yang jelas jika dia mengambil kredit produktif. Kita harus yakin bahwa dia mampu mengembalikan kredit ini, pengembalian kredit hanya terdiri dari dua faktor yang disebut kemampuan untuk membayar dan keinginan untuk membayar.

Mampu membayar dan bersedia membayar.

Jadi dia memiliki kemampuan untuk membayar tetapi tidak mau, maka kredit tersebut tidak akan terbayar.

Sebaliknya dia ingin membayar tetapi tidak mampu, maka tidak akan terbayar.

Jadi ya intinya sebenarnya kredit itu hanya dua hal, bagaimana kita menilai kemampuan dia untuk membayar dan apakah dia memiliki kemauan untuk membayar, yang kita kenal sebagai karakter.

Jadi terkadang memiliki kemampuan tetapi memiliki karakter yang bisa ditebak.

Jadi ini kembali lagi pada suatu analisis tertentu mengenai faktor-faktor yang kita jaga agar kesehatan kredit tersebut tetap terjaga.

Jika dilihat, rasio NPL di BSG 2,7 persen, bagaimana itu pak?

Bank NPL itu tidak boleh melebihi ambang batas. Dianggap sehat jika NPL tidak lebih dari 5 persen.

Artinya rasio kami masih di bawah ketentuan yang berlaku. Bukan berarti tidak ada NPL, tapi masih berada dalam rentang tertentu.

Dan yang paling penting adalah bahwa dari NPL yang ada kita di-backup dengan cadangan.

Jadi ya, jika di perbankan atau secara akuntansi ada yang disebut CKPN atau Cadangan Kerugian atas Penurunan Nilai.

Jadi terdapat pembentukan CKPN yang cukup dari setiap NPL yang terjadi. Ini paling penting di mana CKPN ini dipantau oleh otoritas apakah bank sudah membentuk CKPN yang cukup dan sesuai ketentuan.

Jadi setiap kejadian NPL, kita selalu melakukan backup melalui CKPN. Inilah yang akan menjadi pelindung kita jika terjadi kerugian dari NPL tersebut.

NPL ini jika kita bisa menurunkannya, maka laba kita akan menjadi lebih baik di masa depan.

Terkait hal tersebut, apa komitmen BSG untuk memastikan operasional bank tersebut berjalan transparan dan akuntabel?

Ya, untuk transparan dan akuntabel itu bagian dari tata kelola. Jadi tata kelola disebut sebagai good corporate governance.

Penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance ini merupakan bagian dari tingkat kesehatan bank, untuk menilai bahwa bank tersebut sehat, yaitu dengan telah menerapkan tata kelola yang baik.

Nah, aspek-aspek dari tata kelola itu adalah transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, dan keadilan.

Nah ini yang kita terapkan di dalam penerapan tata kelola bank.

Kami melakukan transparansi dengan akuntabilitas, contohnya bagaimana laporan keuangan harus kami sajikan kepada masyarakat.

Bisa dilihat diwww.banksulutgo.co.id. Di sana ada laporan keuangan kita. Silakan lihat laporan keuangan kita, kemudian laporan keuangan kita juga wajib kita publikasikan secara 3 bulanan 6 bulanan.

Di media kita, kita mempublikasikan bisa dilihat situ berapa aset kita, berapa kredit kita, berapa NPL kita.

Ini adalah bagian dari akuntabilitas.

Bagaimana stakeholder dapat menilai dan ini semua bank diwajibkan untuk hal tersebut.

Bukan hanya di BSG, semua bank diatur oleh otoritas. Oleh Otoritas Jasa Keuangan, hal itu menjadi bagian dari tata kelola oleh bank.

Pak Direktur, apa visi jangka panjang dan menengah BSG, melihat posisi di antara bank-bank lain dan bank nasional?

Rencana menengah kita, kita menggunakan tagline yang kita sebut tumbuh dan berkelanjutan.

Jadi artinya bagaimana Bank Sulut Gorontalo ini bisa berkembang?

Namun bukan tumbuh secara instan, tetapi melalui pertumbuhan yang berkelanjutan sehingga pertumbuhan tersebut tidak boleh bersifat sementara.

Jadi bukan tumbuh sebesar-besarnya, tetapi tumbuh yang berkelanjutan.

Apa artinya kita hanya mengalami pertumbuhan signifikan dalam satu saat, tetapi berikutnya kita mengalami penurunan, jadi ini merupakan visi kita ke depan, visi kita ke depan.

Jadi bagaimana? Kita mungkin tidak akan menjadi bank sebesar Bank Himbara atau bank swasta, tetapi kita akan, istilahnya kita akan menjadi market leader di daerah, jadi kita menjadi market leader di Sulawesi Utara dan Gorontalo.

Bukan menjadi pemimpin pasar di Indonesia, minimal untuk wilayah Sulawesi dan Gorontalo, kita dalam menjadi yang terbaik.(ndo)

Baca Berita Lainnya di:Berita Google

Ikuti SaluranWhatsApp Tribun ManadodanBerita Google Tribun Manadountuk pembaruan lebih lanjut tentang berita populer lainnya

Posting Komentar

0 Komentar